REVIEW : HEAR ME


Industri perfilman di Taiwan kembali menggeliat pasca kesuksesan Cape No. 7 yang luar biasa di tangga Box Office maupun berbagai festival film. Jika masyarakat Indonesia menggemari film tentang dedemit berbau komedi seks, maka masyarakat Taiwan cenderung menyukai film romantis. Ini bisa dilihat dari film lokal yang memuncaki daftar box office selama 3 tahun berturut - turut ; Secret, Cape No. 7 dan Hear Me. Meski bergenre roman, para sineas Taiwan tetap menggarapnya dengan serius sehingga hasilnya pun tetap ciamik dan jauh dari kata mengecewakan. Secret dibuat dengan bujet besar dan dukungan dari Jay Chou, namun Cape No. 7 dan Hear Me hanyalah film berbujet rendah yang didukung oleh para aktor yang kurang dikenal publik luar Taiwan. Untuk review kali ini, saya akan mengulas Hear Me, sebuah film drama romantis yang inspiratif. Kabarnya, Hear Me sempat akan dikirimkan ke Oscar 2011 sebagai perwakilan Taiwan namun belakangan dibatalkan lantaran tak memenuhi syarat jadwal edar sehingga Monga dikirim sebagai pengganti.

Film romansa yang menyentuh sekaligus menggelitik ini memiliki alur yang lumayan cepat dan enak untuk diikuti. Tak ada kesempatan untuk bertele - tele dan mengumbar kesedihan terlalu berlebihan. Tian Kuo (Eddie Peng) bertemu pertama kali dengan Yang Yang (Ivy Chen) saat dia mengantar katering untuk tim renang Deaflympics. Kakak dari Yang Yang sendiri, Xiao Peng (Yanxi Chen) adalah salah satu anggota tim renang dan merupakan unggulan utama. Kakak beradik ini sudah tuli sejak lahir dan untuk berkomunikasi dengan keduanya, Tian Kuo menggunakan bahasa isyarat. Ada getaran yang tidak biasa di dada Tian Kuo saat bertemu Yang Yang, dia merasa gadis ini berbeda dan istimewa. Berbagai upaya pun dia lakukan agar bisa mengenal Yang Yang lebih jauh, termasuk meminta MSN dia dan memberinya boks nasi secara gratis. Namun pekerjaan Yang Yang membuatnya hampir tak memiliki waktu untuk memikirkan kencan sehingga Tian Kuo bolak balik gigit jari. Melihat kesungguhan Tian Kuo, hati Yang Yang mulai luluh dan bersedia untuk meluangkan waktunya sejenak demi menraktir Tian Kuo makan malam.


Disinilah konflik mulai muncul. Sebuah kesalahpahaman terjadi saat Yang Yang mengira Tian Kuo malu padanya karena membayar dengan uang recehan dan memutuskan untuk tak berhubungan lagi dengannya. Semakin meruncing tatkala Yang Yang menyadari hubungannya dengan sang kakak menjadi berantakan setelah dia berkenalan dengan Tian Kuo. Namun bukan Tian Kuo namanya jika menyerah begitu saja. Dia tak akan berhenti sebelum berhasil mendapatkan Yang Yang. Perjuangan Tian Kuo demi mendapatkan cinta serta perjuangan Xiao Peng untuk menggapai impiannya di Hear Me ini diakhiri dengan menyentuh, lucu sekaligus mengejutkan. Di luar dugaan saya, Hear Me tidak menjadi sebuah film roman yang menye menye nan lebay. Ini bukan hanya sekadar kisah cinta biasa, namun juga menyoroti hubungan kakak beradik dengan gangguan pendengaran yang saling mendukung satu sama lain setelah ditinggal kedua orang tua mereka. Fenfen Cheng tidak menjadikan kisah Xiao Peng - Yang Yang ini sebagai tempelan belaka, malahan dia berhasil membungkusnya dengan sangat menyentuh dan inspiratif. Kekurangan tidak menghambat keduanya untuk maju. Mereka justru digambarkan pantang menyerah, ceria dan selalu memandang hidup dengan optimis. Salut !


Cinta adalah sebuah keajaiban, tak perlu untuk diucapkan atau diterjemahkan, karena cinta secara ajaib bisa langsung terlihat. Hampir sepanjang film, Hear Me tak ada dialog. Kalaupun ada, hanya saat Tian Kuo berinteraksi dengan kedua orang tuanya. Sementara untuk Tian Kuo - Yang Yang dan Yang Yang - Xiao Peng, tak ada dialog sama sekali karena mereka berkomunikasi melalui bahasa isyarat. Jangan keburu pesimis dulu, meski hubungan mereka bertiga nol dialog, tapi tak mengurangi kadar menarik dari film ini. Tetap lucu, tetap romantis dan malah lebih menyentuh. Ivy Chen bermain bagus sekali sebagi Yang Yang. Bahasa tubuh dan bahasa isyaratnya mampu berbicara lantang, sungguh indah dan mengagumkan. Tanpa perlu narasi yang berkepanjangan, dia sudah mampu menunjukkannya melalui ekspresi mukanya yang meyakinkan. Eddie Peng pun senada. Meski kadang terkesan agak over, tapi penampilannya juga patut diacungi dua jempol. Jangan lupakan pula akting hebat dari Yanxi Chen, Lo Bei-an dan Mei Shiu Lin.

Sepanjang 108 menit, Hear Me dituturkan secara sederhana oleh Fenfen Cheng. Minim dialog, minim setting sekaligus minim aktor. Jika ditotal, hanya ada 5 aktor yang memiliki peran penting disini, selebihnya diisi para figuran. Lha, filmnya membosankan dong ? Sama sekali tidak. Inilah yang membuat saya jatuh hati kepada film garapan Fenfen Cheng ini. Mereka bisa memaksimalkan segala keterbatasan yang ada dan menjadikannya menarik. Ini senada dengan pesan filmnya itu sendiri, jangan sampai keterbatasan atau kekurangan yang kau miliki menjadikan dirimu lemah. Dibalik kelemahan, pasti ada kekuatan yang tersembunyi. Terus semangat dan jangan pernah menyerah. Sungguh inspiratif !

{ 0 komentar... Views All / Send Comment! }

Posting Komentar